Internasional

20 Negara Paling Tidak Aman buat Dihuni Tahun 2019 Indonesia Masuk dalam Daftar Urutan Berapa

Sebuah perusahaan riset internasional bernama InterNations mengeluarkan hasil survei tahun 2019. Survei bernama Expat Insider 2019 tersebut meneliti 20 negara paling tidak aman untuk dihuni pada tahun 2019. Data diambil dari pengalaman para ekspatriat (warga negara asing yang menetap di sebuah negara) yang bekerja di 64 negara di seluruh dunia.

InterNations mensurvei 20.259 ekspatriat yang mewakili 182 kebangsaan dan tinggal di 187 negara atau wilayah. Permasalahan yang disorot seperti kualitas hidup, biaya hidup, keuangan pribadi, dan lainnya. Hasilnya, Indonesia masuk dalam daftar tersebut.

Lantas, mana saja 20 negara yang paling tidak aman untuk dihuni? Berikut 20 negara paling tidak aman untuk dihuni, menurut Expat Insider 2019, dilansir Forbes.com : Orang orang berpikir bahwa mereka selalu hidup dalam ketakutan di sana.

Mereka mengeluhkan tingkat ketidaksetaraan dan kebrutalan di Brasil sangat tinggi. Hal itu membuat masyarakat merasa terganggu dan tidak nyaman. Kekacauan politik telah menyebabkan banyak kebingungan dan ketidaknyamanan di tempat kerja.

Masyarakat di sana seolah olah hidup dalam gelembung. Mereka merasa kehilangan kebebasan untuk bepergian ke mana saja dan kapan saja. Selain itu, faktor lain yang membuat Afrika Selatan berbahaya untuk dihuni yaitu situasi politik yang tidak pasti, rasisme, korupsi, tingkat kejahatan yang tinggi, dan kaum pinggiran yang tertindas.

Orang orang di Nigeria merasa kurang bebas untuk berjalan kaki di jalanan. Bagi para pendatang, warga lokal Nigeria dianggap sulit untuk diajak berteman. Selalu ada kemungkinan bahaya di sana.

Perasaan yang selalu khawatir menghinggapi penduduk setempat. Hampir semua hal dapat dan mungkin terjadi pada setiap orang, kapan saja di mana saja. Pendatang baru merasa hidup tidak aman di Argentina.

Penduduk lokal dianggap tidak ramah. Faktor ekonomi juga memegang kendali. Seseorang tidak dapat mengatur keuangannya dengan tetap karena pergerakan ekonomi negara yang tidak stabil.

Keselamatan adalah perhatian utama. Para perempuan pendatang merasa tidak aman untuk melalukan berbagai aktivitas sendirian di India. Selain itu, politik garis keras, ketegangan sosial, dan polusi yang sangat buruk juga menjadi faktor ketidakamanan di India.

Para pendatang juga terus menerus dianggap seperti orang asing. Orang orang mereka, mengambil foto, dan berbicara dengan mengerikan, dan mencoba menipu karena mereka menganggap sebagai turis yang kaya. Perempuan di India juga menghadapi pelecehan seksual yang parah dari pria lokal.

Para pendatang mengeluhkan susahnya berteman dengan penduduk setempat. Mereka juga memiliki sikap agresif di jalanan. Perlakuan buruk warga lokal terhadap perempuan juga sering terjadi.

Faktor lainnya yang membuat Peru tidak aman untuk dihuni adalah kondisi kerja yang buruk dan kurangnya kesopanan masyarakat. Para pendatang mengeluhkan rasa waswas setiap berjalan kaki di Kenya. Mereka harus menyetir atau disetiri orang lain ke mana mana.

Orang asing juga sering dimanfaatkan dengan mencuri, menipu, dan menghentikan polisi. Selain itu, jalanan dan lalu lintas yang buruk serta kota yang kotor juga menjadi alasan mengapa Kenya tak aman untuk dihuni. Korupsi adalah masalah besar di Ukraina.

Selain itu, kurangnya kesetiaan atau kejujuran juga menjadi faktor mengapa Ukraina tak direkomendasikan untuk dihuni. Orang asing dianggap sebagai 'dompet berjalan' bagi warga setempat. Hukum juga seolah tidak berfungsi di sana.

Ada korupsi di setiap tingkatan pekerjaan. Pelecehan terhadap orang kulit berwarna terjadi di Turki, terutama di pinggiran ibukota. Politik dan propaganda di Turki bersifat konstan dan memecah belah masyarakat juga membuat seseorang merasa tak aman hidup di sana.

Sehingga, orang orang takut untuk berbicara atau memberikan pendapat. Politik dan ketidakamanan masa depan mengenai instabilitas politik menjadi faktor utama. Lalu lintas juga buruk, dan kejahatan seolah adalah hal biasa di Kolombia.

Berita di Kolombia hampir semuanya negatif. Sistem korupsi di Kolombia juga membuat ketidakadilan bagi penduduk asli dan ekspat. Perusahaan lokal juga tidak banyak memberikan kesempatan untuk orang asing.

Keamanan pribadi adalah masalah besar di Meksiko, khususnya bagi para pemimpin bisnis. Meningkatnya kriminalitas kartel serta korupsi juga menjadi faktor betapa berbahayanya Meksiko untuk dihuni. Rasisme masih berlaku di Inggris.

Wilayah yang kelebihan penduduk, meningkatnya kejahatan, harga akomodasi, dan kurangnya dukungan tentang reintegrasi dan bantuan residensi juga menjadi faktor. Setelah adanya Brexit, para pendatang juga kesulitan untuk bepergian ke dalam maupun luar negeri. Pemerintah, infrastruktur, lalu lintas, kondisi jalan, kondisi bangunan, dan kepadatan penduduk yang buruk di Mesir membuat Mesir tak aman dihuni.

Banyak orang Mesir juga melakukan diskriminasi dan tidak ramah. Banyak pria lokal yang tidak menghormati wanita kulit hitam. Mereka cenderung agak kasar terhadap wanita kulit hitam.

Di Filipina, terlalu banyak undang undang yang membatasi orang asing, terutama yang tidak memiliki tanah Ada juga korupsi dan banyak pengemudi yang tidak bertanggung jawab. Infrastruktur yang buruk, kemacetan lalu lintas, kualitas hidup yang buruk, dan kurangnya ruang hijau menjadi masalah lain di Filipina.

Birokrasi tidak transparan di Italia. Orang orang pun dianggap berpikiran tertutup. Situasi politik sering tidak stabil.

Orang asing lebih sulit mendaftar, mengakses layanan kesehatan, dan membeli properti. Politik dan standardisasi di Amerika Serikat dianggap mengkhawatirkan. Pola pikir dan budaya umum tampak narsisis.

Pemikiran konservatif juga masih tersebar luas. 'Sosialisme' menjadi kejahatan yang melekat. Kurangnya kontrol senjata, pelayanan kesehatan, dan pandangan agama yang terlalu berlebihan juga menjadi alasan.

Rasisme, xenofobia (ketidaksukaan terhadap orang lain yang dianggap aneh atau asing), dan penggunaan senjata ilegal juga marak di AS. Para pendatang prihatin terhadap politik dan ekstremisme agama di Indonesia. Korupsi, kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan dan transportasi, dan ketidakadilan dalam hukum juga banyak ditemukan di Indonesia.

Birokrasi di Yunani menjengkelkan. Para staf yang seharusnya melayani justru tidak peduli. Situasi ekonomi, pendidikan, dan peluang karir yang buruk juga melekat di Yunai.

Orang Prancis dikenal tidak ramah dan diskriminatif terhadap beberapa negara. Negara ini juga tidak terlalu ramah lingkungan. Lalu lintas dan jalanan di sana berbahaya.

Budayanya juga tidak begitu ramah terhadap para pendatang. Kebijakan pemerintah Thailand dipandang tidak menguntungkan terhadap orang asing. Kurangnya dukungan pemerintah ketika melakukan bisnis, korupsi dan hambatan bahasa yang besar juga menjadi masalah di sana.

Selain itu, infrastruktur belum begitu berkembang di Thailand. Kotoran, sampah, kebisingan, dan jalanan yang kacau dan berantakan juga menjadi faktor ketidakamanan Thailand untuk dihuni.

Tags

Widya Aprilyanie

Seseorang yang pemarah tidak selalu bijaksana. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close