Kesehatan

Dankjoedin Berlari Suarakan Antidiskriminasi kepada Orang dengan HIV

Tiga kali dinyatakan positif saat tes human immunodeficiency virus (HIV) sempat meruntuhkan semangat Endang Jamaludin mengarungi hidup. Mata pria yang akrab disapa Dankjoedin ini memandang jauh ke langit langit mengingat kenangan terjerumus narkoba. Lima tahun lalu, Dankjoedin menjadi pemakai narkotika jenis heroin atau putaw. Perceraian di tahun 2013 menjadi awal mula dirinya mulai menyuntikkan narkotika ke tubuh. Kota Gudeg, Yogyakarta, menjadi pelarian Dankjoedin dari Cianjur, Jawa Barat pascamasalah rumah tangga yang menerpa. Dankjoedin pertama kali mengetahui positif HIV saat nongkrong di Alun alun Kidul, Yogyakarta dari tes gratis yang dilakukan Yayasan Vesta Indonesia. Meski positif HIV, Dankjoedin merasa masalah hidup yang dijalani lebih berat daripada status terjangkit HIV.

Tak adanya edukasi dan informasi terkait HIV membuat Dankjoedin abai akan status yang disandangnya. Hingga 2016, narkotika masih kerap masuk ke aliran darah Dankjoedin. Dia menjalani tes HIV sebanyak dua kali lagi lantaran tak percaya positif terinfeksi virus HIV. Hidup tak bakal lama, tak diterima orang orang, menjauh dari sosialisasi hingga ingin mati sempat terlintas di pikirannya. Pemikiran tersebut berangsur menghilang saat sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membuat dia sadar banyak mitos dan stigma HIV yang berbeda dari pemikiran masyarakat. HIV bukan akhir segalanya, hanya virus yang menjangkiti tubuh dan harus dikendalikan. Bermodalkan pemahaman itu, Dankjoedin memberitahu kondisinya kepada sang ibu. Ternyata justru dukungan hadir untuknya melawan penyakit HIV.

"Ketika saya memberitahukan kepada keluarga terinfeksi HIV, ibu saya cuma bilang 'Oke kamu HIV, kamu harus berobat, kamu harus semangat dan berjuang melawan virus itu. Jangan sampai itu mengalahkan diri kamu, tapi kamu harus mengalahkan virus itu.'," kata Dankjoedin. Tujuan hidup dan dukungan diyakini Dankjoedin penting bagi para orang dengan HIV (odhiv) untuk bangkit dari keterpurukan. Anak, ibu dan keluarganya menjadi alasan Dankjoedin tak terpuruk kembali. Setelahnya, pria 30 tahun itu mulai memiliki niat membantu, mengedukasi orang orang untuk lebih mengetahui HIV. Dankjoedin mengaku tak pernah mendapati stigma negatif dari masyarakat ke dirinya. Sejak awal dia terbuka akan statusnya yang terinfeksi HIV. Bahkan di tempat kerja, rekan rekannya tak percaya sekuriti di sebuah bank swasta di kawasan Tanah Abang itu positif HIV.

Kini Dankjoedin tergabung bersama LSM Jaringan Indonesia Positif dan mengkampanyekan #NolDiskriminasiODHIV melalui kegiatan lari sejak 2018. Dia berlari hampir setiap hari dan mengikuti lomba lomba lari. Olahraga lari ddia pilih lantaran bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Meledaknya tren olahraga lari belakangan ini juga dinilai Dankjoedin dapat menjadi sarana mengkampanyekan suara hatinya. Dia berusaha memperlihatkan orang dengan HIV tetap bisa berolahraga dan beraktivitas seperti orang yang tidak terinfeksi HIV. Kini banyak orang dengan HIV hingga nonHIV yang termotivasi dan bergabung dengan Dankjoedin melalui ODHIVRunner untuk berusaha menghentikan diskriminasi tersebut. Melalui media sosial, Dankjoedin juga menginformasikan dan berinteraksi pada masyarakat tentang apa sebenarnya HIV, bagaimana cara penularan dan pencegahannya, serta membuktikan banyak orang yang mendukung para pengidap HIV.

"Jadi ini objek yang sangat menarik, kita berkampanye dan dilihat orang orang. Ketika penasaran, maka banyak yang akan mengakses informasi tentang HIV. Seperti mereka menghubungi saya lewat WhatsApp dan direct message Instagram," tutur Dankjoedin. "Banyak di luar sana yang tersadar, 'Ada lho orang dengan HIV yang lari, bisa sehat dan lainnya.'. Keberhasilan (menyadarkan orang tentang stigma yang salah terkait orang yang terinfeksi HIV) itu sangat luar biasa sekali," imbuhnya. Untuk menekan perkembangan virus HIV, Dankjoedin rajin mengonsumsi antiretroviral (ARV) setiap hari. Tiap bulan, dia mengambil persediaan ARV di RSUD Kota Bekasi secara gratis melalui BPJS. Menurutnya, ketersediaan dan akses ARV saat ini sudah cukup mudah bagi masyarakat. Sehingga dia menyayangkan masih ada ODHIV yang enggan mengkonsumsi ARV.

Dankjoedin memiliki sejumlah cita cita terkait HIV/AIDS. Dia berharap orang yang pernah melakukan kegiatan berisiko segera tes. Bagi yang dinyatakan positif untuk segera terapi ARV. Sementara yang negatif tetap melakukan tes secara rutin tiga bulan sekali. Dankjoedin turut mengharapkan odhiv yang mengonsumsi ARV konsisten dan tak berhenti terapi. Cita cita lainnya, Dankjoedin mengharapkan semua masyarakat Indonesia dapat mengetahui tentang isu HIV, penularan, penanganan dan pencegahannya. "Semua harus tahu isu HIV, tidak hanya orang dengan HIV, tenaga medis atau petugas layanan medis. Itu dapat melindungi diri sendiri, keluarga dan orang di sekitar kita," kata Dankjoedin.

Tags

Widya Aprilyanie

Seseorang yang pemarah tidak selalu bijaksana. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close