Internasional

Donald Trump Resmi Dimakzulkan oleh DPR Amerika Serikat Karena Penyalahgunaan Kekuasaan

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat resmi menyatakan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Pemakzulan Donald Trump ini membuat dirinya menjadi Presiden Amerika Serikat ketiga yang dimakzulkan. Peresmian pemakzulan Presiden Donald Trump ini dilakukan oleh DPR setelah melakukan pemungutan suara pada Rabu (18/12/2019).

Dikutip dari NBC News , Donald Trump didakwa dengan menggunakan dua pasal, yaitu Penyalahgunaan Kekuasaan dan Menghalangi Penyelidikan Kongres. Presiden berusia 73 tahun tersebut dimakzulkan setelah pemungutan suara untuk Penyalahgunaan Kekuasaan mendapatkan dukungan 230, dengan 197 politisi House of Representatives. Sedangkan untuk Menghalangi Penyelidikan Kongres mendapatkan dukungan 229, dalam hasil yang dibacakan Ketua DPR AS Nancy Pelosi.

Salah satu Anggota Kongres, Rep. Tulsi Gabbard dari Hawaii yang mencalonkan diri sebagai presiden, memilih untuk 'hadir' di kedua artikel tersebut. "Setelah melakukan uji tuntas saya dalam meninjau laporan pemakzulan setebal 658 halaman, saya sampai pada kesimpulan bahwa saya tidak dapat memilih dengan suara hati yang baik baik ya atau tidak," kata Gabbard, seperti yang dikutip dari BuzzFeed News . Dengan ini, Gabbard merupakan satu satunya anggota Kongres yang memberikan suara "hadir" pada artikel artikel tersebut.

Gabbard memilih secara eksplisit untuk tidak memilih atau menentang dakwaan yang menuduh Trump menyalahgunakan kekuasaan kantornya dan menghalangi Kongres. Sementara itu, Anggota Kongres Rep. Alexandria Ocasio Cortez mengatakan setelah pemungutan suara, dia merasa terkejut dengan pemungutan suara Gabbard saat ini. Dirinya mengatakan Gabbard berutang kepada konstituennya untuk menjelaskan mengapa dia tidak memilih pihak.

"Hari ini sangat penting. Dan untuk tidak mengambil sikap satu atau lainnya dalam satu hari akibat yang demikian serius bagi negara ini cukup sulit. Kami dikirim ke sini untuk memimpin," katanya. Di sisi lain, Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi menyatakan, pemakzulan terhadap Trump merupakan 'hari menyedihkan bagi Amerika'. Dikutip dari , dalam konferensi pers usaipemilihan, Nancy Pelosi menyatakan hari itu merupakan hari "penting bagi Konstitusi AS".

"Namun di saat bersamaan, ini adalah hari yang menyedihkan bagi Amerika," terang politisi asal Partai Demokrat itu. Pelosi menerangkan, mereka sudah berjuang sebaik mungkin supaya generasi mendatang tetap memandang demokrasi seperti yang diinginkan Bapak Pendiri Bangsa. Setelah dimakzulkan di level DPR AS, Trump bakal menjalani sidang di Senat yang bakal diagendakan pada Januari 2020 mendatang.

Di level ini, kecil kemungkinan presiden ke 45 AS itu bisa dilengserkan mengingat mayoritas berasal dari partainya, Republik. Meski begitu, Trump menjadi presiden ketiga dalam sejarah yang menjalani pemakzulan setelah Andrew Johnson (1868) dan Bill Clinton (1998).

Tags

Widya Aprilyanie

Seseorang yang pemarah tidak selalu bijaksana. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close